Tampilkan postingan dengan label penyakit akibat virus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit akibat virus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2012

ngorok lagi ngorok lagi

Penyakit Ngorok atau penyakit CRD  atau chronic respiratory disease.
Penyakit CRD merupakan penyakit yang berkembang di saluran pernapasan ayam.

Penyakti ngorok CRD akan berlangsung secara berterusan atau continued.
Penyakit NGorok CRD (mycoplasma gallisepticum) sangat sukar sekali untuk di sembuhkan.
Penyakti NGorok CRD selalunya menjangkit pada saluran pernafasan ayam ternak dengan jangka masa yang sangat lama. dengan demikian penyakit ngorok crd bisa di katakan penyakti pernafasan yang bersifat kronis atau akut.

Penyakit ngorok CRD yang menjadi penyebab utamanya adalah mycoplasma gallisepticum, gejalanya dapat terlihat efeknya pada ayam dengan suara ngorok, atau seperti suara mendengkur, apalagi jika keadaan ayam sedang tidur di malam hari, penyakit ngorok ini sangat terlihat jelas jika ayam sedang tidur (posisi lampu mati).
Dengan demikian penyakit CRD ini sangat lebih di kenal di kalangan masyarakat peternak ayam dengan sebutan penyakit ngorok.


BAGAI MANA PENYAKIT NGOROK BISA TERJADI?
Pada dasarnya, penyakti ngorok CRD (komplek) masih menduduki rangking No-1 di dunia peternakan ayam broiler atau ayam pedaging dengan persentase 20.32 %.

Penyakit ngorok akan terlihat jika saluran udara atau pengudaraan atau sirkulasi udara dalam kandang tidak baik, dengan pengudaraan yang tidak baik, misalnya kandungan amoniac di dalam kandang melebihi batas aman.

Batas aman kandungan amoniak di dalam kandang adalah di bawah paras 25ppm (part per milion), jika kandungan amoniak di dalam kandang melebihi paras 25 ppm, maka hal tersebut akan memicu pertumbuhan bakteri di dalam kandang ayam.

Bukan halnya ayam saja , bahkan jika manusia sekalipun seandainya berterusan tinggal di lingkungan yang mengandung amoniak di atas 25ppm, atau dengan sirkulasi udara yang kurang sehat, maka ketika antibodi kita menurun, di sanalah permulaan tereserang penyakit.

kita kembali membahas penyakit ngorok atau CRD.
Jikan udara di dalam kandang sudah terkontaminasi, saluran pernafasan ayam secara natural di lengkapi dengan pertahanan mekanik yang di lapisi bulu-bulu getar serta mukus, bulu-bulu tersebut akan menyaring udara yang akan  asuk kedalam saluran pernafasan ayam tersebut.

Kemudian M.gallisepticum akan masuk kedalam saluran pernafasan tersebut bersamaan dengan udara yang kotor atau udara yang sudah terkontaminasi seperti yang infoternak sudah di bahas di atas.
maka jejak penyakit ngorok CRD sering terdapat kehadirannya pada saluran pernafasan tersebut.

Ketika M.galisepticum sudah masuk kedalam saluran pernafasan ayam tadi, agen penyakit akan tinggal atau menempel pada mukosa saluran rongga pernapasan yang selanjutnya akan merusak sel-sel di dalamnya.
Jika terjadi peradangan yang disebabkan oleh bakteri dan secara berterusan aliran darah di lokasi tersebut akan semakin meningkat.

Dan bakteri tersebut akan di bawa atau di alirkan oelh darah dan selanjutnya akan menuju kantung udara, Maka terjadilah perkembangbiakan penyakit ngorok tsb pada tempat yang cocok yaitu kantung udara tsb.

Bakteri jenis gram (-) ini sangat mudah mati atau di bunuh oleh disinpektan..
aktivitas serangan yang di timbulkan oleh m.galisepticum ini biasanya tidak terlalu cepat dan membutuhkan waktu yang lama.

Ketika bakteri ini sudah berhasil masuk kedalam kantung udara, maka dengan pola serangan yang sangat lambat maka pada gejala awal nampak terlihat biasa-biasa saja.

Karena penyakit ngorok ini bakterinya bisa menetap selama berminggu-minggu di dalam saluran pernafasan ayam, maka dengan demikian ketika ayam mengalami penurunan antibodi atau stress yang tinggi, maka bakteri CRD akan menyerang secara akut atau kronis dan akan menimbulkan masalah yang sangat serius terhadap bisnis peternakan ayam kita.

Maka dengan demikian, berhati2 lah dengan lingkungan kandang anda,

Jumat, 25 Mei 2012

ngorok pada ayam

eorang peternak bercerita kepada Infovet bahwa ayam broiler umur 12 hari mengalami ngorok atau gangguan pernafasan. Setelah vaksinasi IBD gejala makin parah. Ia pun bertanya mengapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya ?
Menurut pengalaman penulis yang aktif di sebuah peternakan kemitraan, ngorok pada ayam bukanlah nama suatu penyakit, namun merupakan salah satu gejala klinis dari penyakit yang menyerang saluran pernafasan ayam. Ini bisa disebabkan oleh agen bakterial, viral, juga fisik seperti udara yang berdebu, perubahan cuaca, amonia, dll.
Beberapa penyakit infeksius yang mempunyai manifestasi klinis gangguan pernafasan diantaranya adalah CRD, ILT, Coryza, ND, IB, TRT/SHS, AI. Gangguan/ penyakit pernafasan ini sering sekali terjadi pada ayam broiler, terutama untuk ayam yang dipelihara di kandang postal. Kejadian dipicu oleh banyak hal, baik dari dalam tubuh ayam sendiri maupun faktor lingkungan. Adanya ketidakseimbangan antara kondisi ayam dan lingkungan tersebut merupakan penyebab utamanya. Dan faktor yang terlibat tidak berdiri sendiri, selalu bersama-sama.
Ayam broiler secara genetik mempunyai kemampuan tumbuh lebih cepat dibanding ayam type lain. Pertumbuhan badan yang cepat tidak sebanding dengan perkembangan organ vital dalam ayam yaitu jantung dan paru-parunya. Sehingga kedua organ ini sangat rentan terhadap gangguan baik dari dalam maupun luar. Untuk menunjang pertumbuhan badan ayam, paru-paru dipaksa bekeja keras menyuplai oksigen untuk metabolisme tubuh, dan jantung juga dipacu untuk mengalirkan darah yang akan membawa okesigen tersebut ke seluruh tubuh.
Oksigen merupakan komponen penting dalam metabolisme tubuh ayam. Zat ini didapat dari udara bebas lewat saluran pernafasan ayam atas. Udara masuk tubuh ayam melalui hidung kemudian masuk ke trakea dan selanjutnya akan menuju ke bronki dan bronkioli di paru-paru. Dari sini oksigen akan dihembuskan ke dalam kantong udara yang ada di rongga tubuh ayam, dan di tubuh ayam terdapat 8 buah kantong udara. Kemudian udara akan dikeluarkan dengan jalan didorong dari kantong udara tersebut ke bronkioli, bronki dan trakea.
Saluran pernafasan ayam secara alami dilengkapi dengan pertahanan mekanik. Permukaannya dilapisi oleh mukosa dan terdapat silia (bulu-bulu getar) serta mukus yang berfungsi menyaring udara yang masuk. Di saluran pernafasan atas ini partikel yang besarnya lebih dari 4 mikron akan didorong keluar oleh silia dan mukus yang ada. Disaluran pernafasan atas selain mengalami penyaringan udara juga mengalami penghangatan. Dan berikutnya di saluran pernafasan bawah terjadi lagi penyortiran partikel yang lebih kecil.
Kandang ayam sistem postal yang memakai sekam atau serutan kayu sebagai litternya, tingkat kepadatan ayam, kelembaban dan temperatur kandang, ventilasi kandang akan mempengaruhi kualitas udara di dalam kandang. Banyaknya partikel debu di udara akan memberatkan kerja saluran pernafasan. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan intake air minum ayam dan menyebabkan kotoran menjadi lebih encer (wet dropping). Dan di Indonesia ini kelembaban udara cukup tinggi sehingga litter menjadi basah dan kadar amonia di dalam kandang menjadi tinggi.
Amonia yang terhirup akan mengiritasi saluran pernafasan ayam, dan menyapu silia di mukosanya. Sel-sel yang ada di permukaan saluran pernafasan menjadi rusak, sehingga mekanisme awal pertahanan tubuh menjadi terganggu. Agen penyakit baik bakteri ataupun virus yang terbawa udara akan mudah sekali menempel di saluran pernafasan karena sistem pertahanan mekanik tidak berfungsi optimal. Di tempat ini agen tersebut akan berkembang biak, dan pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan lebih parah.
Demikian halnya dengan pemberian vaksin ND/IB live yang aplikasinya lewat tetes mata, hidung ataupun spray. Virus akan berada di sepanjang saluran pernafasan ayam dan akan merangsang kekebalan seluler di daerah tersebut. Pada kondisi normal reaksi post vaksinasi tidak akan berat, namun karena saluran pernafasan terluka maka reaksi yang terjadi akan berlebih. Dan kemudian timbulah keradangan sebagai reaksinya, ini merupakan mekanisme tubuh untuk menghancurkan material asing yang masuk ke dalam tubuh. Adanya perlukaan di saluran pernafasan menyebabkan ayam ngorok dan batuk.
Mycoplasma gallisepticum merupakan mikroorganisme yang sering terdapat di saluran pernafasan ayam. Agen ini menempel di mukosa saluran pernafasan dan merusak selnya. Adanya kuman ini akan memicu terjadinya reaksi radang dan aliran darah ke daerah tersebut menjadi meningkat. Kuman akan ikut aliran darah dan menuju ke kantong udara, di sini merupakan tempat yang cocok untuk hidup dan berkembang biak.
Jika ada mycoplasma kantong udara terlihat berkabut dan menebal. Jika mycoplasma berperan sendiri dan ayam dalam kondisi baik gejala klini tidak terlihat, dan jika adapun manifestasinya hanya ringan saja. Namun karena adanya faktor lain seperti debu yang berlebih, kadar amonia yang tinggi saluran pernafasan akan teriritasi.
Selain itu perubahan cuaca, perlakuan ayam yang berlebih, dan adanya agen pemicu virus ND, IB baik dari lapangan ataupun virus vaksin akan meningkatkan keparahan gangguan saluran pernafasan. Adanya faktor imunosupresi seperti mikotoksin dalam pakan, vaksinasi IBD yang tidak tepat akan memperburuk keadaan. Karena adanya luka, penebalan dan peradangan di mukosa saluran pernafasan tersebut ayam menjadi ngorok dan batuk
Gabungan beberapa agen tersebut di atas akan menyebabkan Chronic Respiratory Disease (CRD). Ayam tampak batuk, ngorok, bersin, keluar leleran dari mata, dan hidung. Pada pemeriksaan bedah bangkai trakea terlihat memerah, kantung udara keruh, menebal dan kadang juga terlihat berbusa. Jika bakteri oportunis E. coli ikut campur keadaan terlihat lebih parah, munculah Chronic Respiratory Disease Complex. Kantong udara menebal dan terdapat masa mengkeju di daerah itu, juga di dalam rongga perut. Jantung dan hati akan diselimuti oleh selaput berwarna putih kekuningan.
Penyakit ini akan ditularkan dari ayam sakit ke ayam lain yang peka, dan ayam muda biasanya memepunyai kepekaan yang lebih tinggi. Adanya gangguan pada sistem pernafasan ayam akan menyebabkan asupan oksigen berkurang, proses metabolisme tubuh akan terganggu, sehingga pertumbuhan ayam menjadi terganggu, efisiensi pakan menjadi jelek.
Selain itu kadar oksigen yang rendah akan memacu jantung bekerja lebih keras dan sebagai hasilnya akan timbul penumpukan cairan plasma di dalam rongga perut ayam, dan terjadilah ascites. Proses pengeluaran panas tubuh ayam juga menjadi terganggu karena salah satu caranya dengan evaporasi lewat mulut. Ayam yang bertahan sampai masa panen kualitas karkasnya menjadi menurun, dan beberapa organ tubuhnya banyak yang musti dibuang karena tidak layak dikonsumsi
Vaksinasi IBD yang menggunakan strain virus vaksin yang virulen (vaksin intermediet plus/hot) bisa mengganggu sistem kekebalan ayam. Strain virus vaksin ini akan menimbulkan kerusakan bursa fabricius. Di organ inilah sel-sel yang berfungsi untuk pertahanan tubuh (sel limfosit B) diproduksi. Jika pabriknya rusak maka jumlah sel limfosit yang ada di tubuh akan berkurang dan fungsinya menjadi tidak optimal dalam sistem kekebalan tubuh. Pada akhirnya respon vaksinasi menjadi tidak optimal dan ayam menjadi lebih peka terhadap virus ND dan IBV.

Penanganan

Untuk mengatasi gangguan pernafasan ayam perlu dicari akar permasalahnnya terlebih dahulu. Pemberian antibiotik tidak akan memberikan hasil jika penyebab utamanya tidak kita tangani. Jika kondisi lingkungan jelek perlu diperbaiki di samping pemberian obat. Kualitas udara yang jelek perlu koreksi di ventilasi udaranya, sehingga udara menjadi lebih bersih.
Kelembaban yang rendah (< 50 %) menyebabkan udara berdebu, perlu dilakukan spray air. Kelembaban yang ideal untuk hidup ayam 50-70 %. Pemasangan fan/kipas jika memungkinkan perlu dilakukan. Jika kualitas litter jelek harus kita perbaiki. Litter yang basah atau lembab perlu diganti dengan yang baru. Dan pembalikan litter secara rutin perlu dilakukan untuk mengurangi kadar amonia dalam kandang.
Pemberian antibiotik akan mengatasi infeksi bakteri yang ada, dan tentunya akan menekan populasi E.coli dan Streptococcus, dll di tubuh ayam. Pemberian multivitamin terutama yang mengandung vitamin C dan A, serta pemberian pakan yang berkualitas baik dengan nutrisi seimbang akan membantu mempercepat kesembuhan jaringan mukosa yang rusak.

Pencegahan

1. Penerapan manajemen pemeliharaan yang baik

- Pemilihan kandang yang baik (lebih bagus kandang panggung) dan berventilasi lancar.
- Pola pemeliharaan all in all out.
- Jika memakai kandang postal gunakan litter yang mudah menyerap air dan jaga agar selalu kering, perlu dilakukan pembalikan secara rutin, hindari pemilihan litter yang partikelnya kecil (serbuk gergaji).
- Pemasangan fan pada sistem kandang terbuka akan membantu pertukaran udara di kandang.
- Kepadatan ayam diatur tidak terlalu tinggi 8-10 ekor/m2 untuk kandang postal/panggung sistem terbuka, jika sistem closed house (tunnel atau cooling pad) kepadatan bisa 15 ekor/m2.
- Temperatur kandang yang optimal 21-27 0C, dan kelembaban 50-70 %.
- Pakan yang diberikan harus segar dan mengandung nutrisi seimbang dan hindari kontaminasi mikotoksin pada pakan karena toksin ini bersifat imunosupresif.
- Ketersediaan air minum bersih di kandang.

2. Penerapan manajemen kesehatan

- Dilakukan progarm biosecurity secara ketat diantaranya dengan penyemprotan desinfektan secara rutin untuk menekan populasi organisme patogen di kandang dan lingkungan.
- Kontrol terhadap vektor penyakit seperti rodensia dan serangga
- Program vaksinasi yang tepat untuk farm bersangkutan
- Pelaksanaan vaksinasi yang benar dan meminimalisir reaksi posvaksinasi yang dilakukan dengan jalan pemilihan strain virus vaksin yang cocok (gunakan strain virus vaksin yang ringan/sedang untuk mengendalikan virus lemah, dan strain yang keras/virulen hanya dipakai jika tantangan di daerah tersebut tinggi), aplikasi vaksin yang benar dan tepat (spray akan lebih keras reaksi postvaksinasinya dibanding tetes mata ataupun lewat air minum), dan vaksinasi dilakukan hanya pada saat ayam dalam kondisi sehat.
- Dilakukan monitoring vaksinasi dengan melihat titer antibodinya.
- Pencegahan masuknya penyakit imunosupresif terutama IBD, dengan jalan pemilihan strain vaksin yang tidak merusak kekebalan ayam dan waktu aplikasi vaksin yang tepat dengan mengetahui titer maternal antibodinya terlebih dahulu.
- Kontrol terhadap M. gallisepticum dan E. coli dengan pemberian antibiotik yang cocok dan dosis tepat terutama di awal-awal kehidupan ayam dan juga pada saat ayam mendapat stress berat.
- Treatment air misal dengan klorin akan menekan populasi E. coli dalam air minum.
- Pemberian multivitamin secara rutin terutama vitamin A dan C untuk menjaga mukosa saluran pernafasan ayam.

Rabu, 22 Juli 2009

Gumburo (Infectious Bursal Disease)


Gumboro menyerang sistem kekebalan tubuh. Terutama bagian bursa fibrikus dan thymus, Kedua bagian ini benteng pertahanan ayam dari penyakit. Kerusakan parah yang timbul adalah tidak terbentuknya antibodi sesudah vaksinasi, Gumboro memang tidak mengakibatkan kematian secara langsung tetapi infeksi sekunder setelahnya mengakibatkan banyak kematian.

Secara umum penyakit ini terbagi menjadi dua, yaitu gumboro klinik dan sub klinik, Gumboro klinik menyerang ayam umur 2-7 minggu. Kerusakan sistem kekebalan hanya bersifat sementara (2-3 minggu)  Lain lagi dengan Gumboro sub-klinik (dini). Inilah yang ditakutkan peternak. Selain tidak terdeteksi, umum menyerang anak ayam umur 0-21 hari walhasil sifat kekebalan hilang secara permanen (imunospresi).

Gejala :
Diare berlendir turun nafsu makan dan minum, gemetar dan sukar berdiri,Bulu kotor disekitar anus dan prilaku mematuk di sekitar kloaka (akibat peradangan pada Bursa fibrikus yang terletak diatas dubur)

Penyebab :
Virus IBD (Infectious Bursal Disease) merupakan golongan red virus dan mempunyai struktur RNA . Dalam tubuh ayam virus ini bertahan hidup lebih dari 3 bulan dan setelah itu masih bersifat  Infektif.

Penanggulangan :
  1. Vaksin pada umur satu hari dengan vaksin gumboro aktif. Vaksinasi lanjutan dilakukan pada umur 11 hari dengan vaksin gumboro gabungan (aktif dan in-aktif) vaksinasi berikutnya dilakukan pada umur 21 hari, 6 minggu dan 10 minggu dengan vaksin gumboro aktif (Gumboral CT) Bila perlu diulangi pada umur 40 minggu dengan gumboro in-aktif secara intra muskular.
  2. Menjaga sanitasi kandang

Rabu, 15 Juli 2009

Bronchitis (Infectious Btronchitis)


Penyakit ini menyerang pernafasan. Penularan terjadi dari udara tercemar dari ayam penderita. Ayam terserang menunjukkan gejala sakit setelah 48 jam. Angka kematian tertinggi terjadi saat anak ayam umur dibawah 6 minggu yaitu mencapai 6 % Pada dewasa hampir tidak ada.

Gejala :
Batuk, bersin, sesak nafas, ngorok mengeluarkan lendir, dari hidung dan mata dan nafsu makan dan minum menurun.

Penyebab : 
Virus golonganCorona

Penanggulangan :
  1. Vaksinasi secara teratur sesuai petunjuk. Bisa digunakan vaksin galur Massachusetts dan connecticut. Pemberian secara tetes mata atau hidung. Bisa juga melalui air minum.
  2. Vaksinasi pada umur 7 hari, 30 hari, dan 10 minggu dengan vaksin IB aktif (Bioral H-120)dengan cara tetes mata. Pemberian vaksin di;anjutkan umur 18 minggu dengan vaksin ND+IB in aktif.

Rabu, 10 Juni 2009

Cacar (Avian Pox/Fowl Pox/Avian Diptheria/Pokken Diptheria)


Penyakit ini menyerang ayam semua umur. Angka kematian yang ditimbulkan tergolong kecil, Ada dua bentuk penyakit ini pada ayam. Yaitu cacar kulit berupa kutil pada pial, jengger kelopak mata atau kaki. Diptheri berupa radang pada selaput lendir lidah, mulut, selaput mata, atau pangkal tenggorokan.

Kulit timbul dari bintik putih kemudian berubah agak besar kekuningan tak berapa lama jadi kasar dan berubah lagi menjadi coklat. Setelah 2-3 minggu terjadi peradangan pendarahan pada pangkal kutil.  Pada diptheri, kutil ini terdapat pada ronggamulut atau saluran pencernaan depan. Akibatnya terjadi sumbatan pada oesophagus.

Gejala :
Lesu, nafsu makan berkurang, Produksi telur menurun drastis, Suhu tubuh meninggi, kadang terjadi kelumpuhan, kotoran encer

Penyebab :
Virus famili Poxviridae

Penanggulangan :
  1. Vaksin dengan vaksin cacar aktif (Diftosec CT) pada umur 4 minggu dengan cara tusuk gores sayap atau intra muskular. Kemudia beri vaksinasi penguat /booster (Diftosec CT) 3 bulan kemudian. 
  2. Gunakan biji awar-awar sebanyak 3 buah. ukuran sedang untuk ayam umur 3 bulan. pemberian bisa langsung dengan mengiris kecil-kecil dan masukkan langsung atau menumbuknya kemudian campur dengan makanan atau minuman.
  3. Menyayat kutil kutil sampai berdarah dan diolesi larutan yodium atau neo blue atau yodium tinctura sampai kutil tersebut kering , kisut sampai akhirnya terkelupas
  4. Untuk diptheri kerik dulu gmpalan dalam rongga mulut sampai lepas, Luka yang timbul diolesi yodium tincturaatau yood gliserin

Selasa, 09 Juni 2009

Tetelo (Newcastle Desease



Tetelo pertama muncul pada tahun 1926 di ingris. Sampai sekarang sudah tersebar luas di berbagai penjuru dunia. Penyakit sangat ganas dan menular. Peternak ayam sering menyebut sampar, Pes, Psuedo Vogel-Pest, atau Cekak.Ia menyerang ayam semua umur. Selain menghambat produksijelas mematikan. Sampai saat ini belum ada obat manjur. Ini akibat virus. Sama halnya manusia terkena Influenza. Pemberian obat tidak menghilangkan virus. Tetapi mengurangi gejala. Tindakan pencegahan paling dianjurkan.

Gejala :
Lesu, kurang bergairah, nafsu makan berkurang. Jengger ayam dan pial kebiruan. Sayap terkulai, keluar cairan dari hidung hingga susah bernafas, ngorok dan batuk, kotoran cair atau kekuningan, Jika banyak yang kena maka ayam akan bergerombol mencari tempat yang hangat, Setelah 1-2 hari kemudian muncul gejala syaraf seperti kaki lumpuh, jalan seret dan leher terpeluntir, (tortikolis) Akibatnya jalan berputar putar (tanda khas).

Penyebab :
1. Virus Paramxyo
2. Pergantian musim seperti hujan atau kemarau yang panjang, termasuk pancaroba.
3. Kontak langsung dengan ayam sakit melalui udara atau binatang lain (carrier)

Penanggulangan :
1. Vaksinasi secara teratur sesuai petunjuk. Pemberian dilakukan dengan vaksin aktif pada umur 4 hari, 18 hari,  8 minggu dengan vaksin ND in-aktif secara intra maskular, pada umur 18 minggu diberi vaksin gabungan IB + ND in aktif secara intra maskular pula. Ulang 6 bulan kemudian. Anak ayam umur kurang 1 bulan diberi dengan cara tetes. Pada ayam dewasa diberi secara intra maskular pula.

2. Ayam yang benar benar sakit harus dimusnahkan
- Aktif : Vaksin berisi bibit penyakit hidup tetapi sifatnya tidak terlalu ganas bagi ayam. Masa kekebalan 2,5 bulan.

Rabu, 03 September 2008

Marek (Leoukosis Akuta)

Penyakit ini banyak timbul akibat kontak langsung dengan ayam penderita. Serangan  banyak terjadi pada anak ayam usia 3-4 minggu terutama pada usaha ayam komersial. Usia 8-9 minggu saat paling rawan serangan. Penularan bisa melalui debu kandang, kotoran, Litter, maupun peralatan kandang.

Gejala :
1. Neural : Jengger pucat, kelumpuhan pada sayap dan kaki.
2. Visceral : Hati lebih besar dua kali lipat
3. Ocular : Kebutaan , Iris mata berwarna kelabu
4. Skin Form : Tumor dibawak kulit dan otot


Penyebab :
Virus DNA tergolong virus Herpes tipe B


Penanggulangan :
1. Vaksinasi segera setelah telur menetas dengan vaksin Cryomarex HVT atau Cryomatex rispens dengan dosis0,2 mlsecara sub kutan (pada kulit leher)
2. Bila ada yang terserang sebaiknya dimusnahkan.

Kamis, 07 Agustus 2008

Batuk Darah (Infectious laryngotracheitis)


Virus penyakit ini tidak segarang Gumboro. Selain dapat dihilangkan dengan desinfektan ia juga tidak tahan diluar tubuh host-nya (inang perantara) Ayam umur 14 minggu atau lebih sangat rentan penyakit ini.

Gejala :
Mata berair malas bergerak, getah radang (exudat) berupa lendir bercampur darahmelekat pada rongga mulut terutama tenggorokan. Akibatnya ayam banyak mati karna penyumbatan saluran tenggorokan. Selain itu sering batuk, sulit bernafas (terdengar suara khas) paruh dan kotoran terlihat percikan darah.

Penyebab :
Virus herpes, Yaitu tarpen avium.

Penanggulangan :
  1. Memberi vaksin modified LT vaccine dengan cara meneteskan pada mata. Cara lain dengan memberikan Cloacal type vaccine dengan cara menggosokkannya bada bibir atas kloaka. Laukan 2-3 bulan sebelum ayam bertelur. 
  2. Vaksinasi dengan Lyrngo Vac nobilis (Produksi Intervet) 
  3. Bila ayam terkena sebaiknya dimusnahkan.