Jumat, 25 Mei 2012

ngorok pada ayam

eorang peternak bercerita kepada Infovet bahwa ayam broiler umur 12 hari mengalami ngorok atau gangguan pernafasan. Setelah vaksinasi IBD gejala makin parah. Ia pun bertanya mengapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya ?
Menurut pengalaman penulis yang aktif di sebuah peternakan kemitraan, ngorok pada ayam bukanlah nama suatu penyakit, namun merupakan salah satu gejala klinis dari penyakit yang menyerang saluran pernafasan ayam. Ini bisa disebabkan oleh agen bakterial, viral, juga fisik seperti udara yang berdebu, perubahan cuaca, amonia, dll.
Beberapa penyakit infeksius yang mempunyai manifestasi klinis gangguan pernafasan diantaranya adalah CRD, ILT, Coryza, ND, IB, TRT/SHS, AI. Gangguan/ penyakit pernafasan ini sering sekali terjadi pada ayam broiler, terutama untuk ayam yang dipelihara di kandang postal. Kejadian dipicu oleh banyak hal, baik dari dalam tubuh ayam sendiri maupun faktor lingkungan. Adanya ketidakseimbangan antara kondisi ayam dan lingkungan tersebut merupakan penyebab utamanya. Dan faktor yang terlibat tidak berdiri sendiri, selalu bersama-sama.
Ayam broiler secara genetik mempunyai kemampuan tumbuh lebih cepat dibanding ayam type lain. Pertumbuhan badan yang cepat tidak sebanding dengan perkembangan organ vital dalam ayam yaitu jantung dan paru-parunya. Sehingga kedua organ ini sangat rentan terhadap gangguan baik dari dalam maupun luar. Untuk menunjang pertumbuhan badan ayam, paru-paru dipaksa bekeja keras menyuplai oksigen untuk metabolisme tubuh, dan jantung juga dipacu untuk mengalirkan darah yang akan membawa okesigen tersebut ke seluruh tubuh.
Oksigen merupakan komponen penting dalam metabolisme tubuh ayam. Zat ini didapat dari udara bebas lewat saluran pernafasan ayam atas. Udara masuk tubuh ayam melalui hidung kemudian masuk ke trakea dan selanjutnya akan menuju ke bronki dan bronkioli di paru-paru. Dari sini oksigen akan dihembuskan ke dalam kantong udara yang ada di rongga tubuh ayam, dan di tubuh ayam terdapat 8 buah kantong udara. Kemudian udara akan dikeluarkan dengan jalan didorong dari kantong udara tersebut ke bronkioli, bronki dan trakea.
Saluran pernafasan ayam secara alami dilengkapi dengan pertahanan mekanik. Permukaannya dilapisi oleh mukosa dan terdapat silia (bulu-bulu getar) serta mukus yang berfungsi menyaring udara yang masuk. Di saluran pernafasan atas ini partikel yang besarnya lebih dari 4 mikron akan didorong keluar oleh silia dan mukus yang ada. Disaluran pernafasan atas selain mengalami penyaringan udara juga mengalami penghangatan. Dan berikutnya di saluran pernafasan bawah terjadi lagi penyortiran partikel yang lebih kecil.
Kandang ayam sistem postal yang memakai sekam atau serutan kayu sebagai litternya, tingkat kepadatan ayam, kelembaban dan temperatur kandang, ventilasi kandang akan mempengaruhi kualitas udara di dalam kandang. Banyaknya partikel debu di udara akan memberatkan kerja saluran pernafasan. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan intake air minum ayam dan menyebabkan kotoran menjadi lebih encer (wet dropping). Dan di Indonesia ini kelembaban udara cukup tinggi sehingga litter menjadi basah dan kadar amonia di dalam kandang menjadi tinggi.
Amonia yang terhirup akan mengiritasi saluran pernafasan ayam, dan menyapu silia di mukosanya. Sel-sel yang ada di permukaan saluran pernafasan menjadi rusak, sehingga mekanisme awal pertahanan tubuh menjadi terganggu. Agen penyakit baik bakteri ataupun virus yang terbawa udara akan mudah sekali menempel di saluran pernafasan karena sistem pertahanan mekanik tidak berfungsi optimal. Di tempat ini agen tersebut akan berkembang biak, dan pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan lebih parah.
Demikian halnya dengan pemberian vaksin ND/IB live yang aplikasinya lewat tetes mata, hidung ataupun spray. Virus akan berada di sepanjang saluran pernafasan ayam dan akan merangsang kekebalan seluler di daerah tersebut. Pada kondisi normal reaksi post vaksinasi tidak akan berat, namun karena saluran pernafasan terluka maka reaksi yang terjadi akan berlebih. Dan kemudian timbulah keradangan sebagai reaksinya, ini merupakan mekanisme tubuh untuk menghancurkan material asing yang masuk ke dalam tubuh. Adanya perlukaan di saluran pernafasan menyebabkan ayam ngorok dan batuk.
Mycoplasma gallisepticum merupakan mikroorganisme yang sering terdapat di saluran pernafasan ayam. Agen ini menempel di mukosa saluran pernafasan dan merusak selnya. Adanya kuman ini akan memicu terjadinya reaksi radang dan aliran darah ke daerah tersebut menjadi meningkat. Kuman akan ikut aliran darah dan menuju ke kantong udara, di sini merupakan tempat yang cocok untuk hidup dan berkembang biak.
Jika ada mycoplasma kantong udara terlihat berkabut dan menebal. Jika mycoplasma berperan sendiri dan ayam dalam kondisi baik gejala klini tidak terlihat, dan jika adapun manifestasinya hanya ringan saja. Namun karena adanya faktor lain seperti debu yang berlebih, kadar amonia yang tinggi saluran pernafasan akan teriritasi.
Selain itu perubahan cuaca, perlakuan ayam yang berlebih, dan adanya agen pemicu virus ND, IB baik dari lapangan ataupun virus vaksin akan meningkatkan keparahan gangguan saluran pernafasan. Adanya faktor imunosupresi seperti mikotoksin dalam pakan, vaksinasi IBD yang tidak tepat akan memperburuk keadaan. Karena adanya luka, penebalan dan peradangan di mukosa saluran pernafasan tersebut ayam menjadi ngorok dan batuk
Gabungan beberapa agen tersebut di atas akan menyebabkan Chronic Respiratory Disease (CRD). Ayam tampak batuk, ngorok, bersin, keluar leleran dari mata, dan hidung. Pada pemeriksaan bedah bangkai trakea terlihat memerah, kantung udara keruh, menebal dan kadang juga terlihat berbusa. Jika bakteri oportunis E. coli ikut campur keadaan terlihat lebih parah, munculah Chronic Respiratory Disease Complex. Kantong udara menebal dan terdapat masa mengkeju di daerah itu, juga di dalam rongga perut. Jantung dan hati akan diselimuti oleh selaput berwarna putih kekuningan.
Penyakit ini akan ditularkan dari ayam sakit ke ayam lain yang peka, dan ayam muda biasanya memepunyai kepekaan yang lebih tinggi. Adanya gangguan pada sistem pernafasan ayam akan menyebabkan asupan oksigen berkurang, proses metabolisme tubuh akan terganggu, sehingga pertumbuhan ayam menjadi terganggu, efisiensi pakan menjadi jelek.
Selain itu kadar oksigen yang rendah akan memacu jantung bekerja lebih keras dan sebagai hasilnya akan timbul penumpukan cairan plasma di dalam rongga perut ayam, dan terjadilah ascites. Proses pengeluaran panas tubuh ayam juga menjadi terganggu karena salah satu caranya dengan evaporasi lewat mulut. Ayam yang bertahan sampai masa panen kualitas karkasnya menjadi menurun, dan beberapa organ tubuhnya banyak yang musti dibuang karena tidak layak dikonsumsi
Vaksinasi IBD yang menggunakan strain virus vaksin yang virulen (vaksin intermediet plus/hot) bisa mengganggu sistem kekebalan ayam. Strain virus vaksin ini akan menimbulkan kerusakan bursa fabricius. Di organ inilah sel-sel yang berfungsi untuk pertahanan tubuh (sel limfosit B) diproduksi. Jika pabriknya rusak maka jumlah sel limfosit yang ada di tubuh akan berkurang dan fungsinya menjadi tidak optimal dalam sistem kekebalan tubuh. Pada akhirnya respon vaksinasi menjadi tidak optimal dan ayam menjadi lebih peka terhadap virus ND dan IBV.

Penanganan

Untuk mengatasi gangguan pernafasan ayam perlu dicari akar permasalahnnya terlebih dahulu. Pemberian antibiotik tidak akan memberikan hasil jika penyebab utamanya tidak kita tangani. Jika kondisi lingkungan jelek perlu diperbaiki di samping pemberian obat. Kualitas udara yang jelek perlu koreksi di ventilasi udaranya, sehingga udara menjadi lebih bersih.
Kelembaban yang rendah (< 50 %) menyebabkan udara berdebu, perlu dilakukan spray air. Kelembaban yang ideal untuk hidup ayam 50-70 %. Pemasangan fan/kipas jika memungkinkan perlu dilakukan. Jika kualitas litter jelek harus kita perbaiki. Litter yang basah atau lembab perlu diganti dengan yang baru. Dan pembalikan litter secara rutin perlu dilakukan untuk mengurangi kadar amonia dalam kandang.
Pemberian antibiotik akan mengatasi infeksi bakteri yang ada, dan tentunya akan menekan populasi E.coli dan Streptococcus, dll di tubuh ayam. Pemberian multivitamin terutama yang mengandung vitamin C dan A, serta pemberian pakan yang berkualitas baik dengan nutrisi seimbang akan membantu mempercepat kesembuhan jaringan mukosa yang rusak.

Pencegahan

1. Penerapan manajemen pemeliharaan yang baik

- Pemilihan kandang yang baik (lebih bagus kandang panggung) dan berventilasi lancar.
- Pola pemeliharaan all in all out.
- Jika memakai kandang postal gunakan litter yang mudah menyerap air dan jaga agar selalu kering, perlu dilakukan pembalikan secara rutin, hindari pemilihan litter yang partikelnya kecil (serbuk gergaji).
- Pemasangan fan pada sistem kandang terbuka akan membantu pertukaran udara di kandang.
- Kepadatan ayam diatur tidak terlalu tinggi 8-10 ekor/m2 untuk kandang postal/panggung sistem terbuka, jika sistem closed house (tunnel atau cooling pad) kepadatan bisa 15 ekor/m2.
- Temperatur kandang yang optimal 21-27 0C, dan kelembaban 50-70 %.
- Pakan yang diberikan harus segar dan mengandung nutrisi seimbang dan hindari kontaminasi mikotoksin pada pakan karena toksin ini bersifat imunosupresif.
- Ketersediaan air minum bersih di kandang.

2. Penerapan manajemen kesehatan

- Dilakukan progarm biosecurity secara ketat diantaranya dengan penyemprotan desinfektan secara rutin untuk menekan populasi organisme patogen di kandang dan lingkungan.
- Kontrol terhadap vektor penyakit seperti rodensia dan serangga
- Program vaksinasi yang tepat untuk farm bersangkutan
- Pelaksanaan vaksinasi yang benar dan meminimalisir reaksi posvaksinasi yang dilakukan dengan jalan pemilihan strain virus vaksin yang cocok (gunakan strain virus vaksin yang ringan/sedang untuk mengendalikan virus lemah, dan strain yang keras/virulen hanya dipakai jika tantangan di daerah tersebut tinggi), aplikasi vaksin yang benar dan tepat (spray akan lebih keras reaksi postvaksinasinya dibanding tetes mata ataupun lewat air minum), dan vaksinasi dilakukan hanya pada saat ayam dalam kondisi sehat.
- Dilakukan monitoring vaksinasi dengan melihat titer antibodinya.
- Pencegahan masuknya penyakit imunosupresif terutama IBD, dengan jalan pemilihan strain vaksin yang tidak merusak kekebalan ayam dan waktu aplikasi vaksin yang tepat dengan mengetahui titer maternal antibodinya terlebih dahulu.
- Kontrol terhadap M. gallisepticum dan E. coli dengan pemberian antibiotik yang cocok dan dosis tepat terutama di awal-awal kehidupan ayam dan juga pada saat ayam mendapat stress berat.
- Treatment air misal dengan klorin akan menekan populasi E. coli dalam air minum.
- Pemberian multivitamin secara rutin terutama vitamin A dan C untuk menjaga mukosa saluran pernafasan ayam.

beternak ayam pedaging 2



I. Pendahuluan
Ayam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak.untuk berupaya membantu peningkatan produktivitas, kuantitas, kualitas dan efisiensi usaha peternakan ayam broiler secara alami (non-Kimia).
II. Pemilihan Bibit
Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih
III. Kondisi Teknis yang Ideal
a. Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat.
b.Pergantian udara dalam kandang.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
c.Suhu udara dalam kandang.
Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Umur (hari) Suhu ( 0C )
01 – 07 34 – 32
08 – 14 29 – 27
15 – 21 26 – 25
21 – 28 24 – 23
29 – 35 23 – 21
d.Kemudahan mendapatkan sarana produksi
Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan.

IV. Tata Laksana Pemeliharaan
4.1 Perkembangan
Tipe kandang ayam Broiler ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter). Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah.
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.
4.2. Pakan
- Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).
- Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya. -Penambahan POC NASA lewat air minum dengan dosis 1 – 2 cc/liter air minum memberikan berbagai nutrisi pakan dalam jumlah cukup untuk membantu pertumbuhan dan penggemukan ayam broiler.
- Dapat juga digunakan VITERNA Plus sebagai suplemen khusus ternak dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari, yang mempunyai kandungan nutrisi lebih banyak dan lengkap.
- Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan :
Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :
Berat total ayam hasil panen =
1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi). Penggunaan POC NASA atau VITERNA Plus dapat menurunkan angka FCR tersebut.
4.3. Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.
4.4. Teknis Pemeliharaan
- Minggu Pertama (hari ke-1-7). Kutuk/DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis + 1 – 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
- Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama). Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4.
- Minggu Kedua (hari ke 8 -14).
Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua adalah 33 gr per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.
- Minggu Ketiga (hari ke 15-21).
Pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 48 gr per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyak-banyaknya. Perlakuan vaksin tersebut juga tetap ditambah POC NASA atau VITERNA Plus dengan dosis tetap.
- Minggu Keempat (hari ke 22-28).
Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal
mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.
- Minggu Kelima (hari ke 29-35).
Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 – 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen.
- Minggu Keenam (hari ke-36-42).
Jika ingin diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg.
4.5. Penyakit
Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu :
- Tetelo (Newcastle Disease/ND)
Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 – 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.
- Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)
Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.
- Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease)
Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.
- Berak Kapur (Pullorum).
Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum.
Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang.
Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik. Pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ayam, ketahanan tubuh ayam, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Untuk hasil lebih optimal, pemberian POC NASA dapat dicampur dengan Hormonik dosis 1 botol POC NASA dicampur dengan 1-2 tutup botol Hormonik, atau 1 botol POC NASA dicampur dengan 2-4 kapsul Asam Amino. Dapat juga menggunakan VITERNA Plus yang merupakan suplemen khusus ternak dengan kandungan :
1. Mineral-mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang, organ luar dan dalam, pembentukan darah dan lain-lain.
2. Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine, Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh
3. Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A, D, E, K, C dan B Komplek untuk kesehatan dan ketahanan tubuh.
4.6. Sanitasi/Cuci Hama Kandang
Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap kedua yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.

mengatasi pilek dan stress 2

filek dan stress dapat disebabkan oleh sanitasi kandang yang kurang, perubahan cuaca ekstrem dengan perlakuan terhadap ayam. Filek yang menyerang ayam anda kemungkinan disebabkan ayam telah mengalami stress sebelumnya sehingga mudah terkena penyakit. Untuk mengatasi kami menyarankan untuk menggunakan antibiotik yang mengandung oxytetraxiclin HCL seperti koleridin dan sebagainya dan apabila ayam telah sembuh dari penyakit segera berikan vitamin seperti vita chick selama 5 hari berturut-turut. Jangan lupa untuk menjaga stamina kedepan berikan jamu ayam dengan bahan Jahe merah satu ruas, Kunyit, daun paria kemudian campur dengan madu. Berikan sekali seminggu. Atau madu dapat digantikan dengan gula merah. selamat mencoba

Rabu, 22 Juli 2009

Gumburo (Infectious Bursal Disease)


Gumboro menyerang sistem kekebalan tubuh. Terutama bagian bursa fibrikus dan thymus, Kedua bagian ini benteng pertahanan ayam dari penyakit. Kerusakan parah yang timbul adalah tidak terbentuknya antibodi sesudah vaksinasi, Gumboro memang tidak mengakibatkan kematian secara langsung tetapi infeksi sekunder setelahnya mengakibatkan banyak kematian.

Secara umum penyakit ini terbagi menjadi dua, yaitu gumboro klinik dan sub klinik, Gumboro klinik menyerang ayam umur 2-7 minggu. Kerusakan sistem kekebalan hanya bersifat sementara (2-3 minggu)  Lain lagi dengan Gumboro sub-klinik (dini). Inilah yang ditakutkan peternak. Selain tidak terdeteksi, umum menyerang anak ayam umur 0-21 hari walhasil sifat kekebalan hilang secara permanen (imunospresi).

Gejala :
Diare berlendir turun nafsu makan dan minum, gemetar dan sukar berdiri,Bulu kotor disekitar anus dan prilaku mematuk di sekitar kloaka (akibat peradangan pada Bursa fibrikus yang terletak diatas dubur)

Penyebab :
Virus IBD (Infectious Bursal Disease) merupakan golongan red virus dan mempunyai struktur RNA . Dalam tubuh ayam virus ini bertahan hidup lebih dari 3 bulan dan setelah itu masih bersifat  Infektif.

Penanggulangan :
  1. Vaksin pada umur satu hari dengan vaksin gumboro aktif. Vaksinasi lanjutan dilakukan pada umur 11 hari dengan vaksin gumboro gabungan (aktif dan in-aktif) vaksinasi berikutnya dilakukan pada umur 21 hari, 6 minggu dan 10 minggu dengan vaksin gumboro aktif (Gumboral CT) Bila perlu diulangi pada umur 40 minggu dengan gumboro in-aktif secara intra muskular.
  2. Menjaga sanitasi kandang